Bengkalis, 18 Juli 2026 – PT Arara Abadi yang merupakan unit usaha APP Group di bidang kehutanan, senantiasa berkomitmen kuat melaksanakan langkah pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sekitar wilayah konsesinya di Provinsi Riau. Bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kerja sama yang berlandaskan Nota Kesepahaman (MoU) telah berjalan dua tahun kini memasuki tahap lanjut melalui Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA), tepatnya pengembangan budidaya ikan baung di Distrik Rasau Kuning, Perawang.
Program ini dirancang tak hanya untuk meningkatkan taraf penghidupan warga, melainkan juga mengubah pola pandang turun-temurun bahwa pengolahan lahan harus diawali dengan pembakaran. Praktik tersebut memang terasa memudahkan sesaat, namun meninggalkan dampak jangka panjang yang merusak: tanah makin miskin hara, polusi udara, hingga risiko Karhutla yang merugikan generasi sekarang maupun mendatang. Melalui program ini dibuktikan bahwa kemajuan dan kesejahteraan dapat diraih tanpa merusak alam.
Corporate Engagement (SCE) Head PT Arara Abadi, Deny Widjaya menjelaskan bahwa tahap kedua ini dimulai pada April 2026, berlanjut dari pelaksanaan 2024–2025. Kini dibudidayakan bibit unggul hasil penelitian BRIN yang dikembangkan bersama warga di Lipat Kain. Sebanyak 2.000 ekor ikan sedang diuji coba secara multilokasi di Kampung Pinang Sebatang Timur milik Bapak Alex Safirman serta di Desa Kesumbo Ampai, Bathin Solapan pada kolam Kelompok Masyarakat Sakai Bathin Sobanga, dengan rencana panen pada Agustus atau September 2026 nanti.
“Harapan kami, nantinya akan tumbuh pusat-pusat penghasil bibit ikan baung berkualitas di berbagai lokasi, tidak hanya di Lipat Kain saja. Dukungan riset BRIN membuat air di sekitar kita berubah menjadi sumber rezeki yang terus mengalir, tanpa perlu membakar sehelai daun pun. Kami tidak akan berhenti mendampingi warga sampai terbukti nyata: makmur warganya, lestari hutannya,” ujar Deny.
Salah satu penerima manfaat, Alex Supirman, menceritakan dulunya lahannya merupakan bekas lahan terbakar yang sempat ditanami jagung namun gagal karena karakteristik tanah gambut yang sering tergenang. Ia kemudian mengubahnya menjadi kolam perikanan, dan kini berperan pula sebagai mata dan telinga pengawas kawasan. “Kalau ada tanda-tanda api kami segera lapor dan ikut memadamkan. Kolam ini pun kami siapkan airnya untuk antisipasi. Jadi penghasilan tetap jalan, upaya cegah Karhutla pun makin kuat,” tuturnya penuh optimisme.
Sumber : Rilis
Editor : Redaksi Media 3k3 Group








